Ulat Beracun Menyerbu Permukiman Berlin, Mengapa Aturan Malah Memperburuk Bencana?

(SeaPRwire) –   By: Elena Rostova

Berlin sedang dilanda invasi ulat beracun yang mengancam kesehatan warga.
Bukan karena wabah ini datang tiba-tiba tanpa prediksi.
Masalah utamanya adalah kebuntuan penegakan kebijakan antar lembaga.
Aturan yang ada justru melambatkan respon terhadap wabah yang semakin menyebar.

Hama ini adalah ulat ngengat prosesi pohon ek, nama ilmiahnya Thaumetopoea processionea.
Ulat ini muncul antara bulan Mei hingga Juli setiap tahun.
Mereka memiliki ratusan ribu bulu mikro beracun yang bisa terbawa angin hingga 200 meter.
Paparan bulu ini bisa menyebabkan ruam, iritasi mata, dan gangguan pernapasan.
Pada kasus parah, paparan bisa memicu reaksi alergi bahkan syok anafilaktik.
Invasi ini sudah menyebar selama bertahun-tahun di wilayah Berlin.
Tahun lalu, Departemen Lingkungan Senat Berlin mencatat 5.032 pohon ek terinfestasi di 881 lokasi.
Musim panas tahun ini, jumlah pohon terinfeksi meningkat tajam di beberapa distrik.
Otoritas sudah menutup area terinfeksi, termasuk taman, lapangan olahraga dan jalur pejalan kaki.
Di perumahan Jungfernheide yang berpenghuni lebih dari 11.000 jiwa, ulat sudah menyebar ke semua sudut.
Mereka menghinggapi fasad bangunan, mobil, bingkai pintu, pagar dan lampu jalan.
Warga yang frustrasi sudah mengumpulkan lebih dari 4.500 tanda tangan petisi.
Mereka menuntut rencana perlindungan yang mengikat untuk wilayah Jungfernheide.
Ahli memprediksi invasi akan semakin buruk musim panas ini.
Prakiraan cuaca menyatakan Jerman dan Eropa Tengah akan mengalami cuaca lebih panas dan kering dari rata-rata.
Hama ini tidak hanya berada di Jerman, sudah menyebar ke sebagian besar wilayah Eropa.
Ia diperkenalkan secara tidak sengaja ke Inggris pada 2006, kini sudah menetap di London Raya.
Pemerintah Inggris baru saja mengeluarkan peringatan untuk warga agar tidak menyentuh ulat atau sarangnya.

Klasifikasi ulat sebagai alergen bukan hama kesehatan masyarakat.
Hal ini membuat badan kesehatan memiliki kewenangan intervensi yang sangat terbatas.
Aturan perlindungan tanaman juga membatasi penggunaan jenis biosida tertentu.
Buruknya koordinasi antar lembaga sudah dikritik oleh politisi lokal.
Mereka meminta respon terkoordinasi dari semua pihak terkait.
Perubahan klasifikasi dan penyesuaian aturan harus dilakukan segera.
Tanpa itu, wabah ini akan terus menyebar dan membahayakan lebih banyak warga.

Author bio: Elena Rostova, pakar kebijakan publik yang fokus pada penilaian kepatuhan regulasi untuk lembaga pemerintahan.