Bank of England: Saat Sejarah Dihapus Demi ‘Satwa Liar’ yang Lebih Aman

(SeaPRwire) –   By: Alistair Kroon

Keputusan Bank of England untuk menyingkirkan tokoh sejarah dari uang kertas adalah bentuk kepengecutan institusional yang dibalut narasi inklusivitas. Mengganti Winston Churchill, Alan Turing, dan Jane Austen dengan gambar satwa liar bukan sekadar pembaruan desain. Ini adalah upaya sistematis untuk mencuci memori kolektif Inggris agar tidak lagi menyinggung sensitivitas modern yang rapuh. Ketika sebuah bank sentral lebih takut pada perdebatan sejarah daripada menjaga integritas simbol nasional, kita sedang menyaksikan erosi identitas yang dilakukan oleh birokrat yang kehilangan arah.

Secara resmi, Bank of England berdalih bahwa desain satwa liar lebih sulit dipalsukan dan mendapatkan dukungan publik yang kuat. Namun, dokumen internal yang diungkap The Telegraph menunjukkan motif yang jauh lebih politis. Riset dari firma Savanta menyimpulkan bahwa tokoh-tokoh seperti Churchill dianggap “elitist” dan “divisive”. Mereka melabeli sejarah sebagai beban yang “backward-looking” dan “imperialistic”. Regulator memilih untuk tunduk pada tekanan ideologis, mengabaikan fakta bahwa uang kertas adalah cerminan dari narasi bangsa yang telah dibangun selama lebih dari setengah abad sejak William Shakespeare muncul di uang £20 pada tahun 1970.

Di balik layar, pergeseran ini adalah bagian dari “diversity overhaul” yang lebih luas di institusi Inggris. Savanta bahkan memperingatkan bahwa arsitektur bersejarah dan tebing putih Dover pun berisiko dianggap kontroversial karena asosiasi kolonial atau isu imigrasi. Ini adalah bentuk penyensoran halus yang dipoles sebagai evolusi positif. Politisi seperti Kemi Badenoch dan Nigel Farage menyebutnya sebagai “wrongheaded wokery”, sebuah kritik yang tepat sasaran. Ketika sejarah dianggap sebagai ancaman, institusi tidak lagi melayani publik, melainkan melayani agenda penghapusan masa lalu demi kenyamanan sesaat.

Pada akhirnya, pendulum geopolitik dan budaya Inggris sedang berayun ke arah yang sangat berbahaya. Dengan mengganti pahlawan perang dan pemikir besar dengan rubah merah atau katak biasa, Bank of England secara tidak langsung menyatakan bahwa sejarah Inggris tidak lagi layak untuk dirayakan. Ini bukan tentang keamanan uang kertas dari pemalsuan, melainkan tentang ketidakmampuan institusi untuk mempertahankan nilai-nilai mereka sendiri di bawah tekanan narasi progresif. Kita akan segera melihat bagaimana masyarakat merespons ketika dompet mereka tidak lagi berisi sejarah, melainkan sekadar katalog kebun binatang yang steril.

Author bio: Alistair Kroon, seorang komentator geopolitik internasional yang berpengalaman dalam menganalisis pergeseran kebijakan publik dan dinamika kekuasaan di institusi-institusi besar dunia.