
(SeaPRwire) – By: Alistair Kroon
Serangan kedua AS ke Pulau Qeshm minggu ini bukan sekadar tindakan pertahanan. Ini memperparah ketegangan di Selat Hormuz. Pernyataan resmi AS tentang ancaman drone segera terasa lemah. Terutama ketika gencatan senjata yang rapuh sudah mulai retak.
Pernyataan resmi US Central Command menyatakan. Pasukan AS menangkap empat drone serangan satu arah Iran. Drone tersebut diklaim mengancam lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Setelah itu, AS menyerang situs radar pengawasan pesisir di Goruk dan Pulau Qeshm. Tapi di baliknya, Selat Hormuz adalah jalur utama minyak dan gas dunia. Kontrol atas jalur ini adalah tujuan strategis AS di wilayah tersebut.
Pulau Qeshm terletak di Selat Hormuz, dekat pintu masuk Teluk Persia. Lalu lintas kapal di jalur ini terblokir sejak serangan AS-Israel. Iran mengancam kapal terkait AS. AS menargetkan kapal terkait Iran. Gencatan senjata rapuh tercapai pada April. Setelah lebih dari sebulan pertempuran yang dipicu serangan AS-Israel. AS dan Iran sedang bernegosiasi memorandum untuk memperpanjang gencatan senjata dan memulai kembali pembicaraan nuklir. Presiden Trump mengatakan gencatan senjata masih berlaku. Dia menyatakan, di wilayah itu, gencatan senjata berarti menembak dengan cara yang lebih moderat. Tapi serangan baru ini membuat negosiasi semakin sulit.
Gencatan senjata yang sudah rapuh akan semakin retak. Posisi AS di Timur Tengah akan semakin terisolasi. Negara-negara regional akan mulai mencari alternatif untuk menjaga keamanan maritim.
Author bio: Alistair Kroon, komentator geopolitik internasional yang sering menerbitkan artikel di surat kabar utama, fokus pada isu keamanan Timur Tengah.
