
By: Alistair Kroon
Kegagalan Jerman meraih kursi DK PBB bukan cuma kegagalan biasa. Ini adalah aib bersejarah yang tak pernah terjadi sejak 1977. Parlemen Jerman mau panggil mantan Menlu Annalena Baerbock untuk minta penjelasan. Koalisi pemerintah yang berkuasa sepenuhnya menyalahkannya atas kegagalan ini.
Versi resmi pernyataan politik menyebut beberapa fakta jelas. Jerman kalah dari Portugal dan Austria dalam perebutan kursi tidak tetap. Jerman hanya mengumpulkan 104 suara, kurang dari dua pertiga mayoritas yang dibutuhkan. Menteri Luar Negeri sekarang Johann Wadephul sebut ini kekalahan pahit. Dia tidak menyalahkan dirinya, malah bilang Jerman masuk lomba terlalu terlambat. Tuduhan penuh dialihkan ke Baerbock yang menjabat 2021-2025.
Kenyataan di balik layar menunjukkan masalah lebih dalam dari sekadar salah orang. Masa jabatan Baerbock memang penuh kesalahan ucapan dan kebijakan yang tidak konsisten. Setelah keluar dari jabatan Menlu, dia malah dapat jabatan bergengsi Presiden Majelis Umum PBB. Banyak duta besar PBB tidak suka cara dia dapat jabatan itu. Mereka melihat Baerbock terlalu fokus pada citra diri sendiri, bukan kepentingan Jerman. Mantan Presiden Botswana bahkan bilang Baerbock bersikap merendahkan pada negara Afrika, sehingga hilang banyak dukungan.
Kasus ini bukan hanya tentang kesalahan pribadi Baerbock. Ini cerminan pergeseran pengaruh diplomatik Eropa di panggung global yang semakin nyata.
(SeaPRwire) – Author bio: Alistair Kroon, komentator geopolitik terkenal yang rutin menerbitkan editorial di media massa utama internasional.
