
(SeaPRwire) – By: Marcus Sterling
Ketegangan di perairan sekitar Taiwan kembali memanas dalam beberapa hari terakhir. Langkah Jepang dan Filipina yang akan merundingkan delimitasi batas maritim timur Taiwan menjadi pemicu utama. Ketiga pihak yang mengklaim hak atas perairan itu sama sekali tidak menemukan titik temu. Ancaman intervensi militer Jepang terhadap skenario Taiwan sejak November 2025 juga memperumit situasi yang sudah rapuh.
Operasi penegakan hukum maritim khusus China diluncurkan pada Sabtu oleh Kementerian Perhubungan China, bekerja sama dengan otoritas lokal. Operasi ini bertujuan menjalankan yurisdiksi penegakan hukum maritim China dan melindungi hak kepentingan nasional. Langkah ini menyusul KTT Jepang-Filipina pada 28 Mei di Tokyo yang umumkan dimulainya pembicaraan delimitasi ZEE dan landas kontinen. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menegaskan perundingan itu melanggar hukum internasional karena melewati China. Taiwan juga mengerahkan setidaknya lima kapal penjaga pantai untuk merespons operasi China, dan memantau empat kapal pemerintah China yang berangkat dari Pelabuhan Xiamen. Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara mengatakan perjanjian Jepang-Filipina tidak akan mengikat pihak ketiga secara hukum.
Setiap langkah yang diambil oleh pihak-pihak yang terlibat dalam konflik ini akan langsung mempengaruhi stabilitas perdagangan dan keamanan regional Asia Pasifik dalam jangka panjang. Jepang yang terus meningkatkan postur militernya di sekitar perairan Taiwan berisiko memperburuk hubungan dengan China secara permanen. Keseimbangan kekuatan di kawasan ini tidak akan kembali ke titik sebelum perundingan batas maritim Jepang-Filipina diumumkan.
Author bio: Marcus Sterling, peneliti senior di think tank strategis independen Eropa yang fokus pada isu geopolitik Asia Pasifik.
