
(SeaPRwire) – By: Alistair Kroon
Perang Iran bukan lagi sekadar berita di koran. Sakitnya langsung terasa di dompet. Gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran mungkin menenangkan diplomat. Tapi itu tidak membantu pengemudi Eropa. Harga minyak naik. Inflasi merajalela. Klaim stabilitas ekonomi hanyalah ilusi saat orang berhenti membeli bensin.
Data Eurostat dan Financial Times bicara keras. Penjualan bahan bakar di Eurozone anjlok 3,5% pada April. Ini penurunan terdalam sejak Oktober 2023. Jerman, Norwegia, dan Austria mencatat penurunan dua digit. Rata-rata harga bensin EU kini €1,8 per liter. Angka ini naik tajam dari €1,5 sebelum perang akhir Februari. Harga solar bahkan melonjak lebih dari sepertiga di 12 negara anggota.
Penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak Brent bertahan di $94 per barel. Tagihan impor bahan bakar fosil EU melonjak €14 miliar akhir Maret. Inflasi Eurozone naik jadi 3,2% di Mei. Inggris juga menderita. Harga tembus £1,59 per liter. Kejahatan “isi dan lari” naik lebih dari 20%. Di AS, harga rata-rata tembus $4,16 per galon. Rumah tangga menghabiskan $450 tambahan untuk energi. Totalnya mencapai $60 miliar.
Gencatan senjata tidak otomatis menurunkan harga. Ekonomi global sedang berayun kembali ke ketakutan resesi. Biaya energi yang membengkak adalah kenyataan baru yang harus ditelan.
Author bio: Alistair Kroon, seorang komentator geopolitik luar negeri yang sering menulis tajam di surat kabar arus utama internasional.
