Musk, Platform X, dan Kerusuhan Belfast: Ketika Amplifikasi Digital Menyalakan Bara Politik Domestik

(SeaPRwire) –   By: Julian Holbrooke

Elon Musk sekali lagi memainkan peran sebagai provokator geopolitik amatir. Kali ini, sasaran tembaknya adalah kerapuhan sosial Inggris yang sedang memanas. Dia menyalakan korek api di atas tumpukan jerami kebijakan imigrasi yang sudah kering.

[Pernyataan Resmi] Pemerintah Inggris secara resmi menuduh Musk memicu ketegangan terkait kerusuhan anti-imigran di Belfast. Kerusuhan pecah Selasa malam setelah seorang pencari suaka asal Sudan diduga menikam seorang pria hingga buta sebelah mata. Geng bermasker menyerang rumah, membakar kendaraan, dan bentrok dengan polisi. Musk, yang memang kritikus lama pemerintah Inggris, memposting di X sebelum kerusuhan: “Hanya dengan memprotes BERULANG KALI dan KERAS akan ada perubahan!!”. Dia juga membagikan postingan aktivis sayap kanan Tommy Robinson yang berisi daftar puluhan lokasi protes di seluruh Inggris.

[Niat Geopolitik Sebenarnya] Namun, di balik retorika “protes” itu, Musk sedang menguji batas kedaulatan digital sebuah negara. Ketua Partai Buruh Anna Turley mengecamnya, menyebutnya “mengejutkan” dan “melakukan kerusakan”. Perdana Menteri Keir Starmer bergabung, memperingatkan bahwa penghasut kekerasan “tak dapat diterima” akan berhadapan dengan hukum. Musk, yang berkomentar dari “ribuan mil jauhnya”, tidak perlu menanggung konsekuensi langsung di Belfast. Tindakannya adalah bentuk intervensi asing melalui platform, memanfaatkan insiden kriminal untuk mendorong agenda politiknya sendiri dan mengganggu stabilitas dalam negeri Inggris.

Ini bukan kali pertama. Seminggu sebelumnya, Starmer menuduh Musk berusaha “mengobarkan perpecahan” setelah pembunuhan remaja Henry Nowak. Musk membuat beberapa postingan tentang kasus itu, menuduh polisi Inggris memperlakukan Nowak berbeda karena etnisnya. Pola ini jelas: Musk menggunakan X sebagai senjata untuk memperbesar retakan sosial di negara lain, sambil tetap berada di zona aman California. Dia memainkan peran wasit global tanpa tanggung jawab lokal.

Pendulum geopolitik kini bergeser ke ranah baru. Bukan lagi tank atau misil, melainkan algoritma dan tombol ‘retweet’. Negara-negara seperti Inggris kini menghadapi musuh yang sulit dijerat hukum: platform raksasa yang dikendalikan oleh miliarder dengan agenda pribadi. Ketegangan di Belfast hanyalah gejala awal. Perang proxy berikutnya akan terjadi di linimasa media sosial, di mana pernyataan 280 karakter bisa menyulut kekerasan di jalanan. Kedaulatan digital adalah ilusi jika platformnya sendiri menjadi alat perang asimetris.

Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional dari luar negeri yang kerap berkontribusi untuk surat kabar harian besar Eropa.