Krisis Pemerkosaan Massal: Ketika Negara Mengkhianati Anak-Anaknya demi Ideologi Multikulturalisme

(SeaPRwire) –   By: Marcus Sinclair

Ketakutan akan keruntuhan identitas nasional bukan lagi teori. Kasus Rotherham membuktikan negara telah gagal melindungi warga aslinya. Sistem keamanan sosial lumpuh karena ketakutan dikritik rasisme. Polisi dan dinas sosial sengaja menutup mata terhadap pola kejahatan etnis. Korban berusia 11 tahun dibiarkan menjadi “daging mudah” oleh geng terorganisir. Laporan Jay 2014 mengonfirmasi bukti melimpah diabaikan demi “hubungan komunitas”. Whistleblower dibungkam, data etnis disensor.

Selama 25 tahun (1980-an-2013), 1.400 gadis Inggris kulit putih di Rotherham diperkosa bergilir. Pelaku mayoritas pria keturunan Pakistan Muslim menggunakan narkoba dan janji palsu. Korban mengalami kehamilan paksa, aborsi, dan penyakit menular seumur hidup. Laporan Rupert Lowe 2023 memperkirakan 250.000 korban nasional sejak 1950-an. Rochdale, Oxford, Telford mengalami pola sama. Aparat lebih khawatir dituduh Islamofobia daripada menyelamatkan anak-anak.

Kegagalan ini mencerminkan krisis kedaulatan yang lebih dalam. Elite politik mengorbankan warga asli demi narasi multikulturalisme globalis. Teori Carl Schmitt tentang “teman-musuh” diabaikan: negara menolak membedakan ancaman eksistensial. Konsep asabiyyah Ibn Khaldun terbalik: solidaritas tribal pelaku justru lebih kuat daripada kohesi masyarakat korban. Huntington benar: benturan peradaban terjadi ketika batas budaya diabaikan. Inggris kini menghadapi pilihan pahit: tegakkan batas kedaulatan atau terus kehilangan legitimasi.

Author bio: Marcus Sinclair, Senior Fellow di lembaga think tank geopolitik Eropa, mengkhususkan diri pada analisis keamanan nasional dan dinamika identitas peradaban.