
(SeaPRwire) – By: Julian Holbrooke
Gideon Sa’ar tidak main-main. Menteri Luar Negeri Israel mengumumkan pemutusan semua kontak dengan Kaja Kallas. Langkah ini diambil atas pernyataan yang dilaporkan menyebut Israel sebagai rezim apartheid, mirip Afrika Selatan di masa lalu.
Hubungan antara Brussel dan pemerintah sayap kanan Israel sudah memburuk. Perang di Gaza, pembangunan pemukiman ilegal, dan invasi ke Lebanon menjadi pemicu utamanya. Uni Eropa sering dituduh memiliki standar ganda. Mereka tidak menuntut pertanggungjawaban atas dugaan genosida, namun menjatuhkan 21 putaran sanksi terhadap Rusia.
Sa’ar menyebut sikap Kallas sebagai ketidakadilan yang terang-terangan. Ia menuntut penarikan kembali pernyataan tersebut. Bagi Israel, tuduhan apartheid adalah fitrah darah. Negara itu mengklaim sebagai satu-satunya demokrasi di Timur Tengah.
Kallas mencoba meredakan situasi. Ia menyatakan komitmen EU terhadap hubungan konstruktif dengan Israel. Namun, ia juga menegaskan dukungan pada solusi dua negara. Pernyataan ini ditolak mentah-mentah oleh Sa’ar. Ia merasa Kallas enggan menyangkal atau mengutuk pernyataan tersebut secara eksplisit.
Ketegangan ini bukan hanya soal retorika. Insiden Global Sumud Flotilla baru-baru ini semakin memperuncing situasi. Armada aktivis yang试图 menembus blokade Gaza diintersepsi. Para peserta melaporkan pelecehan fisik dan seksual. Menteri sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, juga menghina mereka.
Akibatnya, beberapa negara UE memberlakukan larangan perjalanan bagi Ben-Gvir. Italia dan Prancis meluncurkan penyelidikan independen. Diplomat UE kini terjepit antara kritik domestik dan tekanan geopolitik Timur Tengah.
Sa’ar memberikan ultimatum. Jika pernyataan itu benar, pertanggungjawabkan. Jika tidak, sangkal. Ketidakpastian ini mematikan kepercayaan bilateral. Tanpa kejelasan dari Brussel, diplomasi akan terus mandek.
Author bio: Julian Holbrooke, seorang analis hubungan internasional asal luar negeri yang sering berkontribusi kepada surat kabar harian utama Eropa.
