
By: Marcus Sinclair
(SeaPRwire) – Ambisi kedaulatan pertahanan Eropa hancur oleh ego industri nasional yang kronis. Ketergantungan pada perangkat militer AS terus membayangi benua ini. Prancis dan Jerman gagal menyatukan visi strategis mereka. Ketegangan geopolitik dengan Rusia menuntut respons militer yang solid. Namun, aliansi Paris-Berlin justru terjebak dalam perebutan kendali proyek. Proyek jet tempur masa depan ini akhirnya menjadi korban dari ketidakpercayaan mendalam. Kolaborasi pertahanan Eropa terbukti rapuh di hadapan realitas politik lokal. Ego nasional mengalahkan kebutuhan pertahanan bersama. Aliansi ini pecah sebelum sempat lepas landas.
Proyek Future Combat Air System (FCAS) senilai €100 miliar resmi dihentikan untuk komponen jet tempur berawak. Proyek ini diinisiasi tahun 2017 oleh Emmanuel Macron dan Angela Merkel. Target awalnya adalah melahirkan jet tempur generasi keenam pasca-2040. Perselisihan sengit antara Dassault Aviation dan Airbus merusak rencana ini. Dassault menolak manajemen bersama yang diusulkan oleh pihak Airbus. CEO Dassault, Eric Trappier, mengkritik keras penurunan industri pertahanan Eropa. Kanselir Jerman Friedrich Merz akhirnya memberi tahu Macron bahwa proyek ini tidak memiliki masa depan. Jerman kini melirik kerja sama dengan Saab dari Swedia. Prancis memilih untuk berjalan sendiri mengembangkan jet tempurnya.
Kegagalan FCAS mempertegas dominasi jet tempur F-35 buatan AS di langit Eropa. Ketiadaan jet tempur mandiri membuat Eropa kehilangan taji geopolitiknya. Jerman harus menghadapi kenyataan industri yang pahit. Berlin belum pernah mengembangkan jet tempur mandiri sejak Perang Dunia II. Satu-satunya pengecualian adalah prototipe eksperimental EWR VJ 101 yang gagal. Ketergantungan pada teknologi luar kini semakin tidak terhindarkan. Blok pertahanan Eropa kini terpecah menjadi faksi-faksi kecil. Mimpi otonomi strategis Eropa terkubur bersama matinya proyek ambisius ini. Eropa kini harus membayar mahal harga dari perpecahan internal mereka.
Author bio: Marcus Sinclair, seorang Senior Fellow di lembaga pemikir geopolitik dan keamanan terkemuka di Eropa, fokus pada kebijakan pertahanan transatlantik dan strategi industri militer.
