
(SeaPRwire) – By: Julian Holbrooke
Netanyahu tetap maju pilpres meskipun Trump meragukan dan sebagian besar rakyat Israel menolaknya. Ini bukan hanya tentang ambisi pribadi, tapi juga tentang pergeseran dinamika geopolitik AS-Israel yang sedang memanas.
Dari sisi pernyataan resmi, Partai Likud mengumumkan Netanyahu akan maju dan menang dengan pertolongan Tuhan. Trump mengatakan kepada wartawan ABC bahwa ia tidak yakin Netanyahu harus melanjutkan karirnya, meskipun menyebutnya perdana menteri masa perang. Di balik kata-kata itu, hubungan kedua pria telah memburuk. Trump bahkan mengakui memanggil Netanyahu “gila” dalam panggilan telepon panas Juni lalu, karena Netanyahu enggan menghentikan serangan ke Lebanon selama negosiasi AS dengan Iran.
Fakta resmi juga menyebutkan pemilihan harus berlangsung sebelum 27 Oktober, pertama kali sejak operasi militer Gaza. Namun, survei Israel Democracy Institute menunjukkan 61% rakyat Israel tidak ingin Netanyahu maju lagi. Persentase yang sama juga mendukung batas dua masa jabatan untuk perdana menteri mendatang. Netanyahu sedang diadili karena korupsi, dan lawan politiknya menuduhnya gagal menghilangkan Hamas, menetralkan Hezbollah, atau mengendalikan Iran.
Hubungan AS-Israel akan terus memanas selama Netanyahu bertahan berkuasa, dan pilihan rakyat Israel akan menentukan arah pergeseran kekuatan regional.
Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional luar negeri yang sering berkontribusi pada surat kabar harian Eropa utama.
